Alvin menyebut LTR diharapkan dapat menjadi rumah bagi generasi muda Jambi untuk belajar, berkarya, membangun jejaring, hingga mengembangkan potensi mereka.
“LTR berkomitmen menjadi rumah bagi anak-anak muda Jambi yang ingin bertumbuh, belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi terbaiknya. Setiap langkah yang kami tempuh adalah investasi untuk masa depan,” tuturnya.
Ia menegaskan, semangat tersebut juga berangkat dari keinginan para owner yang sama-sama memiliki keterikatan dengan Jambi untuk memberikan kontribusi nyata bagi daerah.
“Kami kebetulan sama-sama orang Jambi. Jadi harapannya memang bisa memberikan kontribusi yang baik, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia,” katanya.
Dari sisi kuliner, LTR tidak hanya mengandalkan konsep coffee shop. Manajemen juga menyiapkan pilihan makanan, termasuk menu lokal, yang dikelola oleh tim manajemen internal.
Pengembangan konsep kuliner tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi LTR untuk membangun tempat nongkrong yang dapat diterima oleh berbagai segmen masyarakat Jambi.
Untuk pengelolaan bisnis, Alvin menyebut peran Raga, Aldi, dan Aldo turut menjadi bagian penting dalam membangun serta menjalankan konsep LTR.
“Kalau dari segi makanan, kami juga ada makanan lokal. Untuk itu ada tim manajemen sendiri yang menangani, yang didirikan bersama Bapak Raga, Aldi maupun Aldo,” jelas Alvin.
Pada akhirnya, LTR ingin membangun sebuah brand lokal yang memiliki daya tarik dan mampu menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Kota Jambi.
“Pada intinya, kami ingin menghadirkan di Jambi tempat nongkrong kopi yang bisa diterima masyarakat Jambi,” pungkasnya.
Dengan grand opening tersebut, Light The Rooftop tidak sekadar membuka sebuah destinasi kuliner baru. LTR membawa ambisi untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekosistem kreatif dan gaya hidup anak muda Jambi—sekaligus membuktikan bahwa bisnis lokal dapat tumbuh dengan mengadaptasi inspirasi dari kota-kota besar tanpa meninggalkan karakter daerahnya.